Light or Dark

“Some people aren’t gonna stay with us forever, right?”

Pertanyaan tersebut selalu terngiang dalam benakku sampai membuatku sendiri merasa muak. Aku sama sekali tidak menyangka jika pertanyaan tersebut telah berhasil mengubahku menjadi seperti saat ini. Kedengarannya seperti seseorang yang dicap sebagai ‘tukang galau’. Tapi percayalah, setiap orang pasti pernah berpikir seperti itu. Berpikir bahwa setiap kebersamaan selalu akan berujung pada perpisahan. Masa-masa yang dijalani oleh manusia seolah sebagai arus tali yang terbubung api dan menjalar dengan cepat menuju dinamit. Hanya tinggal menunggu waktu berdetak saja untuk tahu kapan api tersebut akan sampai untuk meledakkannya. Suara ledakan tersebut sama halnya dengan bagaimana perpisahan tersebut akan terjadi, apakah dengan cara yang baik atau bahkan dengan cara yang buruk.
I’m Damar. So, welcome to my world.
                                                           ********

“People said that what you’ll get are equal with what you’ve done.”

Kata-kata yang mungkin bagi orang adalah konyol namun realistis. Ada kok di peribahasa indonesia, dia yang menanam dia juga yang akan menuai. Apa memang benar semudah itu? Namun yang terjadi di kehidupan manusia saat ini adalah seseorang yang menanam, orang lain yang akan menikmati hasilnya, bukan? No offense. Setiap orang pasti akan merasakan hal seperti itu. Munafik jika tidak ada seseorang yang tidak pernah merasakannya.
I’m Lidya. What should I say, then? Have a enjoyable story?

Setiap orang memiliki sebuah peristiwa yang membuat mereka membiarkan sebuah kegelapan menyusupi hati mereka. Kegelapan tersebut membuat manusia memiliki rasa benci. Baik untuk mereka sendiri maupun untuk orang lain. Tentunya, manusia tidak bisa terus menerus berada dalam kegelapan, bukan?

#MyCupOfStory : I Wish

Suara ponsel meneriakan nada yang cukup panjang dengan suara Bruno Mars yang melengkingkan kata-kata Give me all, give me all, give me all, your attention baby dan seterusnya. Mungkin kedengarannya norak tetapi hanya pada orang tertentu saja aku memakaikan nada panggilan yang seperti ini. Sebagai pengingat saja kalau setiap orang yang melintas di hidupku, mereka memiliki kesan tersendiri bagiku. Misalnya jika
Papa yang menelepon, ponselku akan terdengar suara Michelle Bubble menyenandungkan Home miliknya. Sebagai pengingat
bahwa aku sudah harus pulang ke Jakarta dengan segera, meskipun sekembalinya
disana aku hanya akan ongkang-ongkong kaki di rumah untuk mengurus hal-hal yang
tidak penting. Atau jika ponselku terdengar suara seksi Adam Levine yang
menyenandungkan Payphone, sudah pasti Bryan sialan itu akan mengejarku layaknya debt collector yang siap menggampar nasabahnya karena tidak melunasi bill ATM untuk segera menyetorkan muka ke kampus atau bahkan meminta (sebenarnya memaksa lebih tepat) untuk mengambil alih sementara pekerjaan serabutannya sebagai asisten laboratorium. Serta jika pada ponselku terdengar Christinna Grimmie dan siapalah itu rekan covering Youtube-nya sedang meneriakkan Is it only just a dream berkali-kali, itu artinya aku harus menyiapkan mental dan telingaku untuk Virga yang sudah pasti akan berkeluh kesah mengenai keadaan hidupnya yang kelewat rumit. Oke, sampai dimana kita tadi? Sebaiknya pembahasan mengenai nada dering ini tidak perlu dibahas lebih lanjut. Akan bertambah panjang dan membuat orang merasa konyol dengan kebiasaanku. Nah, saatnya kembali lagi ke awal. Jika begitu, sudah dapat kuketahui secara langsung siapa si pembuat panggilan. That woman.

Dalam hati aku hanya mengerang kesal. Oh, ayolah. Aku hanya perlu segera menjawabnya dan mengakhirnya. Agar semua ini akan terlihat jelas bagaimana puncaknya. Akan tetapi justru yang terjadi saat ini aku malah sibuk menimbang-nimbang sebaiknya apa yang harus kulakukan. Tetapi, apa yang harus kukatakan padanya?

Hai, kenapa? Kangen? Tersanjung deh, laki-laki seperti aku yang dikangenin. Seperti
yang dulu begitu mudahnya kulontarkan padanya? Walaupun yang seperti itu kesannya sangat bertolak belakang dengan apa yang terjadi padaku di kenyatannya. Ya, aku hanya sebagai perayu payah yang belum juga memiliki pasangan. Seluruh kampus mengataiku dengan sebutan jomblo ngenes hanya dengan alasan seperti itu. Menyedihkan? Memang. Silakan tertawa sepuasnya.

Atau apakah sebaiknya aku bersikap cool? Seperti Ya? Ada apa? Tetapi kesannya seperti tidak pernah bicara dengannya saja. Lagipula, seperti hemat bicara amat padahal karakterku sama sekali tidak seperti itu.

Dengan keadaanku yang sekarang, alternatif-alternatif seperti tadi tentu tidak akan semudah itu kukatakan padanya.

Angkat. Tidak. Angkat. Tidak. Angkat—

Damn. Hanya masalah mengangkat telepon saja kenapa aku menjadi labil begini.

Akhirnya, kerja sama antara rasio berpikir dan tanganku tersinkron dengan baik. Aku menggeser dial ke arah kanan lalu menempelkan ponsel ke telinga. “Halo?”

“Ini sudah nada sambungan yang ke sepuluh tahu!” Suara di seberang terdengar kesal.

Terdengar suara pelan tetapi memaki yang terakhir ku dengar secara langsung satu tahun yang lalu. Sebelum aku memutuskan untuk berada di tempat ini. Sebelum aku memutuskan akan lebih baik jika jalan seperti saat inilah yang seharusnya kuambil.

“Aira.” Hanya itu yang saat ini keluar dari mulutku. Padahal sejak tadi aku berusaha merangkai segala sesuatu yang ingin kukatakan padanya. Sayangnya, mereka menguap lebih cepat hanya karena suara sahutan gadis itu.

Namun di telingaku tidak terdengar apapun. Hanya suara gemerisik pelan yang tidak berujung. Dalam hati, rasa panik sudah menerjangku. Seriously, kenapa yang namanya wanita sikapnya selalu memberikan kesan seperti ini?

“Raka?” Suara gadis itu kini menggema.

Aku memutar otak dengan keras. Bagaimana ini? Apa yang harus kukatakan? Pikirku dalam hati sambil menjedotkan kepalaku ke meja berulang-ulang karena belum menemukan satu topik yang dapat kubicarakan dengan gadis itu. Kedua bola mataku terlayangkan pada sosok zebra yang muncul di layar televisi. Hei Zebra, apa yang
harus kukatakan padanya?
Aku mengkomunikasikan kata-kataku padanya dalam
wujud telepati akan tetapi ia justru tertangkap sedang asyik-asyiknya mengulum
rumput seolah berkata padaku, “Mana kutahu? Aku tidak peduli.”

“Bagaimana? Sudah ada pengumuman?” Tanyaku berbasa-basi. Akhirnya setelah cukup lama berdebat dengan batin dan dimaki oleh Zebra sialan yang kini malah kabur dari pandangan, aku mendapatkan segumpal topik yang pas. Sambil menyelam minum air, aku berharap akan mendapatkan sedikit informasi mengenai dirinya.

“Oh, itu? Ya, aku sedang mencobanya. Pengumumannya baru akan diumumkan bulan April nanti. Doakan saja, ya?” Kali ini suara renyah gadis itu terdengar.

Entah mengapa suara renyah itu hanyalah kepura-puraan. Mudah sekali bagiku untuk membacanya. Gadis itu menahan diri.

“Pasti.” Mulutku mulai berdusta. “Kau jadi mengambil program studi yang sama seperti Virga? PPE?”

“Mmm-hmm.” Suaranya terdengar seolah ia mengangguk-anggukan kepalanya. “Hanya program studi itu yang masih muat dengan kapasitas otakku yang pas-pasan begini.”

“Kata siapa?” Sergahku. “Kau ini merendah terus pekerjaannya. Semua orang juga tahu kau mengambil kuliah di program studi  yang cukup bergengsi di universitasmu.”
Aku langsung berseloroh. Gadis itu benar-benar mahir merendahkan dirinya.

Kemudian aku mendengar suara cibiran lawan bicaraku. “Kau berlebihan deh. Bukankah itu semua lebih tepat untukmu?”

“Tidak. Aku hanya mahasiswa yang cukup biasa. Standar. Normal. Flat.” Kataku.

           Flat.

Kata itu yang cukup tepat untuk menggambarkan keseluruhan hidupku yang kelewat biasa dan terlalu normal. Meskipun iklan pernah mengatakan life is never flat, tetapi sepertinya hanya aku yang tidak memaknai maksud kata-kata itu.

“Seandainya saja kau ada disini. Aku hanya perlu mengunjungi rumahmu yang amit-amit jauhnya di Bintaro dengan cepat dan menggeretmu seperti biasanya.” Suara gadis itu terdengar seperti sebuah penyesalan dengan keadaan yang ia alami sekarang.

Aku tertawa sumbang. “Apakah itu artinya saat ini kau tidak bisa hidup tanpaku?” Tanyaku sambil melontarkan rayuan yang kedengarannya seperti  jokes basi.

Shit, men.” Kudengar wanita itu mendengus. Namun ada nada tawa yang terselip di kalimatnya. “Senjata mu sama sekali tidak mempan padaku. Teman sendiri masih saja dirayu-rayu? Hello?”

Sialan, mati kutu.

“Kau masih suka minum matcha?” Tanya gadis itu mengalihkan pembicaraan. Ia memang selalu berusaha menutup pembicaraan jika ranahnya sudah ke arah rayu-merayu seperti ini.

Kedua bahuku terangkat. “Tidak. Disini tidak ada yang menjual matcha dengan
rasa yang pas. Justru sekarang aku lebih suka minum kopi. Lebih mudah dan praktis untuk didapat.” Kataku akhirnya.

“Mungkin sebaiknya kau harus mencoba juga, meminum kopi. Tapi dengan syarat,
kau harus sudah mengerti pahitnya hidup jika kau ingin tahu apa manfaatnya
meminum kopi.”

“Harus sekali seperti itu, ya?” Lawan bicaraku kembali bertanya.

“Setidaknya itulah filosofi yang kudapat selama satu tahun berada di kota ini.” Kataku akhirnya.

Kudengar gadis itu melengos. “Oh, baiklah. Aku menyerah. Selamat atas filosofi kopi buatanmu itu dan sekarang bolehkah aku mengeluhkan segala apa yang terjadi kepadamu?”

***********

Di antara kami berempat—aku, Aira, Surya, dan Virga, hanya Surya yang merupakan pecinta kopi. Sedangkan sisanya hanyalah orang yang sebenarnya tidak suka-suka amat dengan minuman hitam itu akan tetapi tidak masalah jika di ajak hang out untuk meminumnya.

Surya pernah mengatakan hal ini padaku dan awalnya ini adalah suatu hal yang bagiku tidak masuk akal. Kopi memberikan suatu esensi yang sangat berbeda dengan pola pikir seseorang pada umumnya. Selama ini orang selalu berpikir kopi hanyalah cairan yang mengandung kafein dan hanya sebagai alat agar kau tidak mengantuk. Tetapi Surya menginterpretasikannya dengan cara yang amat berbeda dari pola pikir
orang-orang umum tetapi mungkin akan sama dengan orang yang benar-benar pecinta
kopi. Dia mengatakan bahwa kau tidak akan menemukan apa yang kau inginkan dari
kopi tersebut saat kau memintanya tetapi kau akan menemukan apa yang kau inginkan saat kau benar-benar membutuhkannya.

“Konyol.” Tandasku ketika aku mendengar ocehannya saat itu. “Dari mana kau mendapatkan kata-kata seperti itu?” Sahutku mulai tergelak.

Surya tampak menampik. “Kau pasti akan berkata begitu karena kau tidak berada dalam keadaan yang kujelaskan tadi.” Jawabnya sambil merengut meskipun wajahnya itu tetap datar.

Lalu seorang barista mendatangi kami dan meletakkan empat cangkir putih di meja. Dari ke empat cangkir itu, hanya satu cangkir yang berbeda dan sengaja diletakkan di hadapan Surya. Sepertinya barista itu sudah mengenal baik orang di hadapanku ini.

Di ketiga cangkir di depan kami terdapat cairan berwarna seperti cokelat susu (bukannya kopi) yang begitu kutanyakan pada Surya namanya adalah latte—kopi
dengan campuran susu, gula, dan krimer yang di atasnya terdapat buih putih yang memilki bentuk yang berbeda-beda. Ada yang berbentuk seperti palm tree, cangkir,
dan juga bentuk yang sangat absurd dan aneh tetapi menyerupai pohon. Sementara
cangkir yang satunya lagi berwarna hitam pekat dan tanpa buih dengan bentuk-bentuk aneh seperti ketiga yang lainnya. Akan tetapi, indra penciumanku mendapati bau harum yang sangat berbeda dari kopi yang berwarna hitam pekat tersebut. Dari baunya saja aku merasakan seperti melayang dan bebas.

“Punyamu apa? Kenapa berbeda dengan yang lainnya?” Tanyaku.

Arabica.” Jawab Surya lalu ia mengangkat cangkirnya. “Kopi yang berasal dari biji kopi Arabica.” Dengan pelan ia menyeduh cangkir tersebut dan kemudian aku melihat
sorot matanya berubah. Seolah kopi tersebut memberikan nyawa padanya.

“Kau tahu,” Surya kemudian meletakkan cangkir yang dipegangnya di meja. “Hanya dengan secangkir ini, aku merasa lega. Beban di pundakku seolah terangkat dan aku  merasakan seluruh tubuhku dialiri kesejukan dan kebaikan yang lembut.”

Dalam hati, aku merasa heran. Surya yang biasanya hanya bicara singkat meskipun kalimatnya banyak, baru kali ini aku mendengar kalimat singkatnya itu terasa lebih bermakna dan—bersahabat. Hanya dengan secangkir kopi hitam yang kini mungkin masih tiga per empat, dia dapat berubah menjadi seperti ini. Lebih lembut dan lebih ekspresif. Apakah mungkin hal tersebut dapat dengan mudah diperoleh hanya dengan secangkir kopi hitam?

“Aku jadi ingin coba. Boleh?” Ujarku dan Surya langsung mendorong pelan cangkir yang diminumnya ke arahku. Tanganku langsung bergerak dengan cepat untuk mencobanya. Aku juga ingin merasakan sensasi yang Surya dapatkan dari minuman ini.

Setelah cairan tersebut memasuki kerongkonganku, ternyata—rasanya tidak seperti sensasi yang Surya dapatkan. Kopi ini terasa pahit dan asam yang lebih dominan, kental di mulut, tetapi halus. Langsung kuletakkan cangkir itu di meja dan aku melihat Surya menahan tawa.

“Hei! Ini sama sekali tidak lucu!” Sergahku dan membuat tawa Surya meledak. Wajahku langsung memerah karena malu begitu Surya menertawaiku. Namun aku menyadari juga satu hal, baru kali ini aku melihat Surya tertawa setelah kami saling mengenal selama tiga tahun.

Setelah beberapa menit, ia kembali menunjukkan ekspresi datarnya namun bersahabat. “Sudah kukatakan sebelumnya, bukan? Kau tidak akan menemukan apa yang kau inginkan dari kopi yang kau minum.” Lagi-lagi ia mengatakannya dengan menahan tawa.

“Baiklah-baiklah.” Kataku akhirnya, berusaha mengakhiri pembicaraan ini karena aku sudah kalah dengannya. “Aku akan mencari sendiri caraku meminum kopi Arabica
milikmu ini.”

***********

Kedatanganku ke kota ini adalah hanya karena satu alasan. Aku membutuhkan ruang dan waktu untuk menerima kenyataan. Picisan sekali, bukan?

Sebenarnya aku sama sekali tidak rela meninggalkan rumahku di Jakarta dimana segalanya terasa lebih mudah dan menyenangkan. Semua keluargaku menetap disana serta aku memiliki teman dekat yang sangat berarti bagiku. Bukankah hidup akan lebih menyenangkan dan mudah jika aku berada di suatu tempat dimana ada keluarga dan teman dekat?

Akan tetapi, ternyata hidup tidak semudah dan semenyenangkan itu.

Sebenarnya mengenai apa yang terjadi pada diriku sendiri pun aku sama sekali tidak mengerti. Kenapa aku menjadi seperti ini?

Jawabannya sangat mudah. Peristiwa yang terjadi satu tahun yang lalu lah yang berhasil membuka pandanganku mengenai hidup ini. Bahwa tidak ada hidup yang selalu mudah dan menyenangkan walaupun kau masih memiliki keluarga ataupun teman dekat.

Satu tahun yang lalu, tepat di tahun terakhirku mengenakan seragam abu-abu, aku menyadari suatu hal. Tidak akan pernah ada yang namanya persahabatan antara laki-laki dan perempuan. Bersembunyi dalam keadaan ‘teman dekat’ hanya akan menggoreskan luka yang terus-menerus di tempat yang sama.

Wanita itu menyukai teman dekat kami
sendiri.

Hal itu terjadi ketika aku kedapatan
menatap wanita itu ketika kedua bola mata cokelatnya melihat lelaki itu. Ada
sesuatu yang sangat berbeda dari cara melihat wanita itu. Ada keraguan, namun
ada kegembiraan disana. Ada keputusasaan, namun ada suatu bentuk syukur disana.
Sementara yang aku lihat adalah aku menyadari bahwa aku telah melihat wanita
itu dari sisi yang berbeda dengan sebelumnya.

Hanya dengan melihat tatapan wanita
itu, seluruh tubuhku terasa bergemuruh, sendu, dan tidak bergairah. Aku sama
sekali tidak dapat mendeskripsikan bagaimana campuran hal-hal aneh itu merasuki
tubuhku dan semakin hari berjalan, apa yang kurasakan pada tubuhku semakin
menguat dan sakit.

Kenapa? Kenapa yang seperti ini mendatangiku?

Dan yang lebih menimbulkan tanda tanya besar dalam pikiranku adalah mengapa wanita itu harus memberikan tatapan yang seperti itu pada lelaki yang merupakan salah satu anggota lingkaran kami? Mengapa wanita itu justru tidak mengetahui atau bahkan menyadari bahwa aku telah melihatnya dari sisi yang berbeda?

Setelah kupikir, aku berusaha mengenyahkan segala pikirku yang sangat bersemrawut sambil memanjatkan bahwa dengan seiring berjalannya waktu, semuanya pasti akan kembali seperti sediakala. Akan tetapi, hal itu hanyalah impian yang sangat menyedihkan bagiku.

Sampai akhirnya, wanita itu bercerita padaku.

“Raka, kau tahu—aku sepertinya telah melihat Virga dari sisi yang berbeda dari sudut pandangku selama ini.”

Kata-kata itu seolah sebagai tamparan keras, membekas, dan menusukku begitu dalam. Sampai aku berpikir, lebih baik aku kehilangan seluruh logika dan nafasku daripada aku hidup seperti ini. Namun, saat itu aku hanya berkata padanya, “Kau tidak ingin mengatakan hal itu padanya? Aku akan mendukungmu.”

Mendukung gundulmu.

Padahal sudah sangat jelas aku merasa terpuruk dan benar-benar berada dalam lubang hitam. Akan tetapi, ada alasan mengapa aku mengatakan hal itu padanya.

Bahwa aku tak mungkin merusak apa yang telah kami jalin selama tiga tahun. Aku tak mungkin menghancurkan wanita yang berhasil menyelinap dalam benakku ketika ia sedang membutuhkan dukungan untuk kehidupan cintanya.

Di tengah dilema itu, tiba-tiba adegan minum kopi ketika aku bersama Surya terlintas dalam benakku. Aku teringat kata-kata dan filosofi konyolnya tentang kopi Arabica.

           Kau tidak akan menemukan apa yang kau inginkan dari kopi tersebut saat kau
memintanya tetapi kau akan menemukan apa yang kau inginkan saat kau benar-benar
membutuhkannya.

Tak kusangka filosofi yang kuanggap konyol itulah yang menyelamatkanku saat itu hingga sekarang.

***********

Namanya Raja Sabi, sebuah kedai kopi kecil di sudut jalan Monjali yang menyediakan berbagai biji kopi dari macam-macam daerah. Namun yang menjadi icon kedai ini adalah biji kopi Arabica dan Robusta yang berasal dari Nangroe Aceh Darussalam, provinsi yang berada di paling utara negara Indonesia dan terkenal dengan biji kopinya yang berkualitas. Aku berhasil menemukan tempat ini setelah Bryan berusaha setengah mati menggeretku dari kampus yang tadinya ajakannya itu kuurungkan karena aku masih harus mengerjakan daftar inventaris barang-barang di laboratorium kampus sampai larut malam.

“Tempatnya memang kecil, tapi kuharap kau suka. Aku berhasil menemukan tempat ini atas rekomendasi senior-senior. Mereka bilang kopi disini enak dan terjangkau, apalagi saat kau bilang kau ingin minum kopi Arabica.” Ujar Bryan ketika kami memasuki kedai yang berukuran 7 x 10 meter bernuansa krem dengan lampu kuning yang temaram terpasang di atas langit-langit ruangan.

Ngomong-ngomong karena kedai ini sepertinya masih belum ramai, aku melihat terdapat sebuah meja dan kursi tinggi bercat putih yang kosong dan berhadapan
langsung dengan barista. Bryan langsung mengambil duduk disana dan aku mengekorinya.

“Kau ingin Arabica atau Robusta?” Tanya Bryan.

Arabica saja.” Kataku mantap dan si barista menganggukan kepalanya.

Lalu, barista itu berbalik dan mengambil sesuatu seperti biji kopi dan meletakkannya dalam brewer. Terdengar suara dengungan dan bermunculan aroma yang nikmat yang berhasil menggelitik indra penciumanku.

Sekarang aku mulai mengerti dan tahu mengapa kata-kata Surya satu tahun yang lalu itu benar adanya.

Bahwasannya, aku telah mengerti bagaimana cara menyeduh kopi Arabica.
Aku telah mengerti apa yang kutemukan dari kopi hitam yang memiliki rasa asam
dan pahit ini.

Jawabannya sederhana dan mudah. Aku membutuhkan rasa asam dan pahit ini untuk mengangkat seluruh beban yang terhimpit di pundakku selama satu tahun belakangan. Aku membutuhkan rasa asam dan pahit ini karena aku ingin bertahan. Aku membutuhkan rasa asam dan pahit ini karena aku tetap ingin berjuang untuk hidup meski wanita itu tidak melihatku dengan cara yang sama ketika ia melihat Virga. Dan aku mulai mengerti bagaimana caranya menyeduh kopi, baik Arabica ataupun jenis kopi yang lainnya. Dengan caraku sendiri, aku telah paham bagaimana pahitnya perjalanan hidup yang kumiliki dan aku membutuhkan kopi sebagai bentuk keinginanku untuk tetap bertahan hidup.

Dan persis seperti yang dikatakan Surya, rasa asam dan pahit ini membuat beban yang selama ini kusimpan rapat-rapat dari siapapun seolah terangkat, membuatku, merasakan perasaan rileks, serta membuatku merasakan bahwa aku telah berada di keadaan yang jauh lebih baik daripada sebelumnya meskipun tidak seluruhnya terasa seperti itu. Arabica memberiku pelajaran bahwa dalam hidup ini, yang seharusnya
selalu diharapkan oleh manusia adalah bagaimana caranya ia menempatkan
keinginannya untuk tetap bertahan hidup, meskipun waktu telah berhasil memporak-porandakan seluruh pertahanannya.

Itulah pengharapan yang sangat kupanjatkan pada Tuhan.

Akan tetapi di dalam hatiku, ada doa yang sama sekali tidak pernah berubah dan akan terus kupanjatkan. Tidak peduli kemana hidup ini akan membawaku, aku tetap berharap bahwa wanita itu akan selalu bahagia dan mensyukuri apa yang ada. Baik dengan pilihannya, ataupun dengan hidupnya saat ini dan nanti.

                                                       ***********

Blogpost ini dibuat dalam rangka mengikuti Kompetisi Menulis Cepren #MyCupOfStory Diselenggarakan oleh GIORDANO dan Nulisbuku.com

#MyCupOfStory : I Wish

Lanjutkan membaca “#MyCupOfStory : I Wish”

Your Time

_

Tidak ada yang salah dengan masa lalu yang baik ataupun masa lalu yang buruk. Karena tanpanya, keputusan dan mimpi tidak akan pernah muncul dan menyertai kehidupan manusia.

_

Kedua karakter dan kisah ini selalu saja menyelinap didalam ruang kosong di benak saya. Mereka seolah selalu meminta saya untuk menguraikan kisah mereka berdua. Ngomong-ngomong, mereka berdua bernama Surya dan Virga. Mereka adalah si kembar yang memiliki karakter berkebalikan, tetapi mereka merasa lengkap karena bersama. Ditambah lagi, rasa lengkap itu membuat mereka berdua menyelipkan mimpi masing-masing dibalik kehidupan mereka. 

Virga dengan kameranya, Surya dengan buku sketsanya. 

Mungkin kisah ini terdengar klasik, tetapi disini kehidupan alur waktu mereka diuji. Apakah tetap bersama menjadi keputusan saat mereka masing-masing memiliki mimpi berbeda?